Monday, 2 June 2014

Tunggu Apa Lagi?




                5 Mei 2014 yang lalu, saya genap berusia 24 tahun. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan bernafas di bumi Allah dan menikmati suka dukanya hidup. InsyaAllah, di akhir tahun ini saya akan melepas masa lajang dengan pria idaman hati paling mengerti makhluk super aneh seperti saya. Rencana sudah diatur, tinggal eksekusinya aja. Doakan semuanya lancar yah. Aamiin. :)



                Back to topic, ‘Tunggu Apa Lagi?’ adalah judul postingan kali ini, pasti donk ada hubungannya sama urusan pernikahan. Iya, untuk para perempuan dan juga laki-laki yang berapapun umurnya, pasti terlintas untuk menikah. Ya paling tidak memiliki tambatan hati. Atau kalau susah amat ya pasti ada yang ditaksir. Semua itu normal dan wajar, toh namanya juga manusia yang dikasih perasaan terhadap lawan jenisnya. Tapi, apakah semua dari kita berani membuat keputusan untuk memulai hubungan ke level yang lebih tinggi lagi, sebuah pernikahan? Mau sampai kapan kita pacaran, atau bahkan cuma bisa mengagumi dari kejauhan? 

Suntiangnya Thalita Ltief itu bagus yak? *mupeng* :p


                Saya dan partner sudah berdua lebih dari setahun, kami tidak pernah menyebutnya pacaran, bahkan kami tidak punya tanggal jadian. Pernah terlintas hal yang kami jalani ini adalah sebuah komitmen. Iya, pasti banyak yang protes, kalau pacaran ya pacaran aja, mana ada komitmen-komitmenan. Oke, terserah sih, toh juga semua orang punya hak untuk berbicara dan komentar. Lalu kami memutuskan untuk naik kelas, yaitu menikah. Kok berani amat pasangan muda yang masih belum tau apa-apa tentang hidup ini menikah? 

                Iya, kami masih muda sekali, bahkan ekonomi pun belum masuk kategori mapan. Kami juga belum memiliki asset pegangan kecuali tabungan yang disiapkan untuk acara pernikahan dan kehidupan setelah menikah. Saya pernah bertanya ke teman saya, kenapa beliau belum juga melamar pacarnya yang sudah 5 tahun dipacari. Alesannya simple sekali, beliau belum punya tabungan yang cukup untuk acara pernikahan, belum punya rumah, mobil dan asset lainnya. Ada lagi yang lain, sudah dilamar, sudah tunangan, namun tak kunjung diajak ke pelaminan, alesan masih sama. 

                Iya, saya setuju sekali, jika seorang laki-laki ingin menikahi seorang perempuan, haruslah punya pegangan, perempuan zaman sekarang pasti juga realistis. Tapi, ga sampe harus punya rumah juga kale, toh juga bisa ngontrak, step by step lah, nanti abis nikah nyicil rumah bareng. Masalah ‘belum punya biaya untuk acara pernikahan’ itu klasik banget. Sebenarnya, menikah itu tidak mahal, yang mahal itu gengsi. Jujur, saya sendiri merasakan ini. Inginnya perempuan itu, kalau bisa acara pernikahannya ala-ala ‘Wedding of the Year’, baju-bajunya harus yang paling bagus, acaranya di gedung mewah dan banyak lagi. Tapi pada akhirnya kita harus sadar, untuk apa semua itu jika pada akhirnya ‘till debt do us part’ seperti yang diceritakan di artikel ini? Tidak masalah jika mampu, tapi jika belum sederhana sajalah. 

                Tunggu apa lagi? Segerakanlah menikah. Yang halal lebih baik, cepat-cepat putusin pacarnya, upgrade status jadi suami/istri. Memulai bersama-sama dari nol. Beli rumah berdua, punya tabungan bersama, nabung asset sedikit demi sedikit. InsyaAllah, orang yang menikah akan dipermudahkan rezekinya sama Allah. Saya sih belum mengalaminya, tapi teman saya sudah. Dan InsyaAllah saya juga akan segera menikah bersama partner tercinta. 


Yang kayak begini sih lucu, ada ga ya yang mureh? :p


                Tunggu apa lagi? Jangan tunggu lama-lama, nanti diambil orang loh. Kalau yang perempuan boleh realistis butuh uang untuk ini itu, tapi ga perlu juga sampai miliaran dan dihabisin demi satu hari acara pesta pernikahan. Kalau yang laki-laki, jadilah seorang laki-laki yang berani memikul tanggungjawab dan selalu berusaha untuk kebutuhan hidup calon keluarganya kelak. Ini reminder buat diri saya sendiri dan pasangan. Yuk mari berusaha untuk realisasikan impian pernikahan kita! :)



-MS-

3 comments:

  1. Setuju juga.. Malah kata orang-orang pacaran setelah menikah akan jauh lebih indah... hehe :D

    ReplyDelete
  2. Indahnya yang sudah dipertemukan.

    Ini iri dalam hal kebaikan boleh kan ya? :)
    Semoga juga segera dipertemukan. Amin.

    ReplyDelete